WARGA NANGA BERE MENGELUH AIR MINUM WAE LEMUK TIDAK MENGALIR

Kran yang tidak di aliri air







Sejak tahun 2021 Warga Desa Nanga Bere mengeluhkan  air minum bersih yang dibangun oleh pemerintah desa yang hingga kini belum bisa dinikmati oleh masyarakat

Air minum bersih menjadi kebutuhan pokok masyarakat Desa Nanga Bere terutama masyarakat kampung Kewitu dan Nanga Tangga yang sudah bertahun-tahun belum bisa menikmati air minum bersih.

Anggaran pengadaan air minum bersih untuk warga kampung Kewitu dan Nanga Tangga oleh Pemerintah desa Nanga Bere sudah memasuki tahap ke-tiga dan telah menghabiskan dana -+ 1 M. Dana pengadaan air minum bersih ini bersumber dari anggaran belanja desa yang mana dalam pengalokasian anggarannya melalui tiga tahap yang di mulai sejak tahun 2021.

Salah satu warga dari kampung kewitu dan nanga tangga, menjelaskan bahwa anggaran pengadaan air minum bersih wae lemuk untuk kampung Kewitu dan Nanga Tangga melalui tiga tahap. Tahap pertama di tahun 2021 dengan menghabiskan anggaran senilai Rp. 305.069.191.00, untuk tahapan kedua di tahun 2022 senilai Rp 257.861.000.00 dan anggaran pada tahap ke tiga di tahun 2023 senilai Rp 323.415.400.00

Sedangkan di RAB tidak disertai volume progres ketercapain kerja dan yang lebih ironinya lagi, lanjut warga kampung kewitu dan Nanga tangga, bahwa pipa dan tugu kran yang digunakan untuk pengaliran air dari bak penampung ke kampung warga masih menggunakan pipa dan tugu kran yang lama, buntut dari persoalan air minum bersih yang tidak kunjung selesai lantas warga mempertanyakan  anggaran air minum wae lemuk yang mencapai -+1 M di kemanakan.

Pemasangan pipa dari sumber mata air wae lemuk sampai ke bak induk penampungan dengan ukuran 4x4 yang terletak di kampung kewitu. Bak penampung ini digunakan sebagai tempat penampung utama air yang di alirkan melalui pipa dari sumber mata air sebelum air teersebut dialirkan ke kran-kran air di perkampungan warga. Namun, nasib na'as terjadi, sebelum air dialirkan ke kran yang ada di perkampungan, bak penampung  justru amblas saat melakukan uji coba. 

Menurut keterangan warga yang menyaksikan kejadian itu bahwa, bak mengalami amblas pada malam hari di tanggal 06 januari 2024 beberapa jam setelah  air dialirkan kedalam bak penampung, kejadian tersebut dinilai karena struktur bangunan bak penampung tidak menggunakan beton disetiap sisi bak, sehingga dinding bak tidak kuat menahan tekanan air yang tertampung didalam bak. Atas kejadian itu, masyarakat kampung kewitu dan Nanga tangga merasa kecewa. Menganggap kepada desa lalai dalam menunjuk tukang untuk pengerjaan bak air minum bersih di kampung kewitu, tukang yang dipilih bukan karena keahlian tetapi karena faktor kedekatan pribadi.

Kemudian, di tanggal 10 januari 2024 masyarakat  dari dua kampung yakni kampung Kewitu dan Nanga Tangga mendatangi kantor desa guna meminta pertanggung jawaban pemerintah desa prihal bak air yang amblas. Pada saat itu, kepala desa Huzaifa Sion mengatakan kepada warga bahwa dia akan memanggil terlebih dahulu para tukang untuk dimintai ketrangan dan mengimbau kepada warga untuk datang kembali pada tanggal 17 januari untuk mendengar keterangan dari para tukang dan sekaligus mendengar keputusan pemerintah desa dalam menindak lanjuti terkait dengan bak air minum yang amblas

Hasil keputusan Pemerintah desa saat pertemuan dengan warga di tanggal 17 bahwa pemerintah desa akan membangun kembali bak baru menggantikan bak air minum yang sebelumnya amblas dengan ukuran 2x2 meter, lebih kecil dari yang sebelumnya yang berukuran 4x4 meter dengan asumsi bahwa dana pembuatan bak air yang baru tidakenggunakan dana desa melainkan menggunakan dana pribadi kepala desa. hal ini dilakukan sebagai bentuk pertanggung jawaban atas kelalaian pemerintah desa dalam penggunaan anggaran desa.

Sudah satu bulan lebih paska amblasnya bak penampung yang pertama dan bak baru yang dijanjikan sudah rampung dibangun namun, hingga kini air belum dialirkan ke kampung-kampung. Untuk saat ini masyarakat dari kedua kampung yakni kampung kewitu dan Nanga Tangga masih menggunakan air sumur untuk keperluan minum, mandi dan mencuci.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan lanjutan dari pemerintah desa terkait dengan kendala yang terjadi sehingga air belum bisa mengalir ke kran-kran di kedua wilayah terutama di Kampung Kewitu dan Nanga Tangga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STOP NORMALISASI HAL NYElENEH

TANTANGAN DIMASA MUDA