Carut marut politik tahun 2024 kian memanas.

Duni Politik 

https://mustarianje01.blogspot.com/2023/10/carut-marut-politik-tahun-2024-kian.html

Perdebatan mengenai nama yang akan tampil pada pemilihan presiden tahun 2024 mengalami pergolakan di antara lembaga survei di Indonesia hal ini karena masing-masing lembaga survei menampilkan hasil survei yang berbeda.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh lembaga survei Indonesia dengan menampilkan hasil yang berbeda membuat masyarakat Indonesia penasaran dengan sosok yang akan tampil dalam kontestasi pemilihan presiden tahun 2024.

Rasa penasaran dan teka-teki mengenai sosok calon presiden tahun 2004 akan datang telah berakhir setelah partai Nasdem mengusung Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden dari koalisi tiga partai antara lain Nasdem PKS dan PKB.

Pengumuman nama calon presiden berikutnya disusul oleh Ganjar pranowo yang diusung oleh partai PDIP beserta partai koalisi dan yang terakhir muncul nama Prabowo Subianto yang diusung oleh partai Gerindra bersama dengan partai koalisi lainnya.

Tidak cukup sampai di situ masyarakat Indonesia kembali dibuat penasaran tentang siapa sosok yang akan muncul untuk mendampingi calon wakil dari ketiga nama  calon presiden Anies Baswedan, Ganjar pranowo dan Prabowo Subianto.

Namun kini penasaran masyarakat Indonesia mengenai nama-nama yang diusung untuk menjadi pendamping sebagai wakil presiden dari masing-masing nama calon presiden telah terjawab di mana Anies Baswedan akan berdampingan dengan Muhaimin Iskandar kemudian Ganjar pranowo bersama dengan Mahfud MD dan yang terakhir Prabowo Subianto akan berdampingan dengan Gibran.

Pemilihan presiden tahun 2024 akan datang tentu agak berbeda dari dua kontestasi sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2014 dan tahun 2019. Jika pada pemilu tahun 2014 dan 2019 hanya melahirkan 2 bakal calon maka berbeda dengan yang terjadi pada tahun 2024 yang diikuti oleh 3 bakal calon.

Jika pada pemilihan presiden 2014 dan 2019 menjadi suatu fenomena baru karena melahirkan istilah-istilah baru yang ditunjukkan kepada lawan politik yaitu istilah cebong/kampret. Lalu bagaimana yang akan terjadi pada pemilihan presiden tahun 2024 yang telah membentuk tiga poros kalisi di mana dua koalisi menginginkan adanya keberlanjutan dan satu koalisi menginginkan adanya perubahan maka dalam hal ini akankah mengulang kembali istilah-istilah lama atau akan melahirkan istilah-istilah baru yang akan ditunjukkan kepada masing-masing lawan politik.

Cerdas melihat fenomena politik

Kita sebagai masyarakat Indonesia tentunya sudah cerdas dalam melihat fenomena politik yang terjadi agar tidak mudah di adu domba dan dijadikan sebagai boneka kampanye oleh partai politik.

Sebagai warga negara yang menginginkan bangsa Indonesia kedepannya lebih baik maka sudah semestinya untuk mengambil banyak pelajaran dari fenomena politik yang terjadi sebelumnya.

Isu politik identitas pada pemilu eksekutif tahun 2024 tertembus sangat kencang yang ditunjukkan kepada pasangan calon Prabowo-Sandi karena saat itu pasangan prabowo-sandi sangat dekat dengan para ulama dan para habaib bahkan ada julukan khusus untuk para pendukung prabowo-sandi yaitu kadal gurun.

Kepastian janji presiden

Sejak tahun 2004 diadakannya pemilihan umum presiden dan wakil presiden yang dipilih langsung oleh masyarakat yang dimenangkan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan wakil presiden Jusuf Kalla. Saat itu SBY dan Jusuf Kalla memiliki janji kampanye diantaranya adalah menegakan supremasi hukum termasuk mengadili para koruptor.

Pada putaran kedua Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama wakilnya Budiono memiliki 15  janji kampanye satu diantaranya adalah mengurangi angka kemiskinan di bawah 5%.

Pemilihan presiden pada tahun 2014 tentu kita masih ingat janji kampanye yang menjadi prioritas presiden Jokowi dan Jusuf Kalla saat antara lain mengurangi angka kemiskinan, mengurangi angka pengangguran 

Pemilihan presiden jilid 2 yang kembali dimenangkan oleh Joko Widodo-ma'ruf Amin. Jilid kedua kepresidenan Joko Widodo-ma'ruf amin dengan 9 janji yang menjadi prioritas presiden diantaranya adalah memperkuat KPK dan memberantas tindakan korupsi.

Janji kampanye memang menjadi senjata ampuh yang digunakan oleh para calon legislatif maupun calon presiden dan wakil presiden guna untuk mengambil hati dan suara masyarakat. 

Sebagaimana yang kita ketahui kasus korupsi di zaman SBY, hal ini dibuktikan oleh banyaknya proyek-proyek nasional yang mangkrak dengan menelan biaya triliunan diantaranya adalah proyek Hambalang.

Kasus yang sama terus akan berulang bahkan hingga kini korupsi di negeri ini belum juga sampai pada titik finish ditambah lagi dengan angka kemiskinan dan pengangguran.

Berdasarkan data dari BPS tahun 2023 jumlah angka kemiskinan di Indonesia masih berada di angka 24 juta, sementara angka pengangguran menurut network Indonesia per 2023 mencapai 12 juta jiwa.

Menjadi pemilih yang bijak.

Sebagai warga negara yang menganut sistem demokrasi maka Sudah menjadi kewajiban setiap 5 tahun, suara kita sebagai masyarakat Indonesia lah yang akan menjadi penentu arah Indonesia ke depan. 

Sehingga pergunakanlah suara yang kita miliki untuk memilih sosok pemimpin masa depan yang sesuai dengan harapan Bangsa dan masyarakat Indonesia yaitu pemimpin yang jujur amanah dan bijaksana, tentu berdasarkan pembacaan pembacaan mengenai tired record dari masing-masing calon yang ada saat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STOP NORMALISASI HAL NYElENEH

TANTANGAN DIMASA MUDA