SEKOLAH TIDAK MENGAJARKAN KITA UTUK MENJADI MALAS TETAPI SEKOLAH MENGAJARKAN KITA UNTUK BEKERJA

 

Foto: Maratun sholeha sedang depang








Salah satu alumni dari MI Al-amin kewitu, Namanya Siti uswatun hasah. Saat ini dia sudah menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama tingkat 2 di SMPN 06 Lembor selatan.   

"ATUN" begitulah panggilan akrab oleh teman temannya di sekolah, dia adalah putri bungsu dari 5 bersaudara. Dari ke-5 bersaudara hanya dirinyalah yang melanjutkan pendidikan tingkat  pertama dikampung halaman. 

Tanpa sengaja, saya mendapatinya sedang membersihkan rumput (depang)  di samping rumah milik mereka. Dengan berhati-hati saya jalan mendekat, saya melihat dia begitu fokus dengan pekerjaan yang dikerjakannya di sore itu. Kedatangan ku tanpa sepengetahuan dirinya sehingga cukup lama aku mengamati dia bekerja,  dia begitu lincah memegang gagang "we'as" menancapkan bagian lancip alat yang digunakan ke arah akar rumput. Hingga akhirnya dia mengetahui kedatangan ku setelah aku menyapanya.

Adik Atun bercerita kepada saya bahwa, kalau dirinya setiap hari sepulang sekolah di sore hari selalu bekerja guna untuk meringankan pekerjaan orang tuanya,  sehingga antara ibu dan dirinya membagi tugas. Jika dia yang membersihkan pekarangan maka ibulah yang menimbah air ataupun sebaliknya dan hampir di setiap pekerjaan yang ada di rumah di awal-awal memang terasa berat dikerjakan namun karena setiap hari dilakukan sehingga saat ini sudah menjadi terbiasa. 

Tidak hanya "depang" yang dilakukan oleh adik atun paska di rumah, tetapi hampir setiap pekerjaan rumah di kerjakan seperti memasak, menimba air, membersihkan rumah maupun mencuci. 

Ketika hari telah pagi,  dirinya selalu berusaha bangun lebih awal, karena dirinya harus ke sekolah di kampung Weko, dengan berjalan kaki dari rumah sampai ke sekolah menempuh jarak kurang lebih 2000 M (2KM). 

Atun bercerita bahwa, saat awal masuk sekolah tingkatan pertama dengan jarak yang begitu jauh jika di bandingkan saat dia Masih MI Memiliki tantangan tersendiri, dimana setiap pagi harus bangun lebih awal dari sebelumnya kemudian berangkat pagi-pagi dengan berjalan kaki menempuh jarak 2000M. Melewati jalan yang penuh bebatuan serta jalan menanjak dan menurun saat pergi dan pulang sekolah setiap hari. 

Walaupun demikian,  tidak membuat semangatnya surut apalagi berhenti untuk ke sekolah. Di awal-awal masih membawa bekal dari rumah namun seiring waktu hal itu tidak dilakukan lagi demi memperingankan beban di perjalanan. Begitu dirinya menuturkan kisah awal masuk sekolah di SMPN 06 Lembor selatan. 

Dari cerita yang dipaparkan oleh adik atun di atas, dapat kita mengambil pelajaran dari kisahnya Bahwa sekolah tidak membuat kita sombong apalagi bermalas-malasan untuk bekerja tetapi sekolah mengajarkan kita agar tidak menjadi pemalas, namun ada sebagian orang yang menjadikan sekolah sebagai alasan untuk mempertahankan gengsi atau ego sehingga enggan untuk membantu orang tua di kebun ketika waktu pulang kampung sebagaimana Kisa "Atun" di atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STOP NORMALISASI HAL NYElENEH

TANTANGAN DIMASA MUDA