GAGASAN MEMBANGUN EKONOMI DESA

oleh: mustarianje71873

Mengisi waktu libur panjang di masa pandemi covid-19 memilih untuk kembali didesa sambil menunggu virus ini pergi dari bumi pertiwi. Kurang lebih 10 tahun merantau tentunya bukan waktu yang sebentar, nuansa desa tidak lagi sama dengan 10 tahun yang lalu. 

kemajuan pembangunan desa sedikit demi sedikit terlihat dan dirasakan oleh masyarakat. Diantara kemajuan yang kini dinikmati oleh masyarakat desa nanga bere yakni hadirnya pemancar jaringan. Sehingga dengan hadirnya tower yang berukuran mini ini dapat memenuhi kebutuhan masyarakat berupa jaringan komonukasi, yakni jaringan seluler yang di lengkapi dengan jaringan internet.

Kemajuan lain yang tidak kalah pentingnya adalah hadirnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), dimana proyek PLTS masuk didesa nanga pada akhir tahun 2019 lalu. Walaupun kini belum bisa digunakan oleh masyarakat, akan tetapi proyek ini sudah memasuki tahap penyelesaian dan sebentar lagi dapat difungsikan dan dinikmati.

Sehingga secara kemajuan, pembangunan, warga desa nanga bere telah memenuhi kebutuhannya berupa jaringan telekomunikasi dan informasi serta penerangan telah terpenuhi. Dan banyak lagi proyek proyek lama yang terlebih dahulu hadir didesa ini, walaupun hingga kini belum bisa dinikmati secara utuh, diantaranya adalah air minum bersih. Dan ini masih menjadi PR buat pemerintah desa, agar bagaimana pengadaan air bersih didesa ini dapat dinikmati secara utuh oleh masyarakat. Karena hingga kini belum terbentuknya tim khusus untuk merawat dan mengawasi hadirnya air minum bersih, yang mana pengadaan proyek air bersih ini telah hadir sejak tahun 2016 silam. 

Dari hasil pengamatan saya selama kurang lebih 8 bulan, yang belum terlihat kemajuannya adalah dari sisi ekonomi masyarakat. Secara garis besar masyarakat desa nanga bere berprofesi sebagai petani kebun. Sehingga keberhasilan petani dari tanaman yang ditanami berupa taman padi, jagung juga umbi itu sangat tergantung pada kestabilan curah hujan. 

Mengingat 3 tahun terakhir sejak tahun 2017 hingga 2020 masyarakat mengalami gagal panen secara keseluruhan akibat curah hujan yang rendah dan musim hujan yang begitu singkat. Sehingga semua tanaman yang ditanam mengalami kematian akibat terik matahari yang begitu panas dan menyengat. 

Sehingga sebagian masyarakat memilih untuk mencari mata pencaharian lain guna untuk mempertahankan hidup. Antara lain; menangkap ikan di laut, memburu madu di hutan. Sedangkan sebagian yang lain memilih untuk bertahan hidup dengan menjual kayu kayu lokal, sepeti kayu jati dan kelapa. 

Melihat hal yang demikian. maka terbesit dalam diri saya untuk menyumbangkan gagasan "membangun ekonomi kreatif masyarakat" agar kestabilan ekonomi masyarakat terjaga dan dapat mengurangi ketergantungan pada hasil kebun atau berburu madu di hutan yang bersifat musiman.

Gagasan ini tentunya bagian dari ide produktif masyarakat kepada pemerintah desa. Mendorong pemerintah desa untuk melakukan sebuah terobosan baru dalam memecahkan permasalahan ekonomi masyarakat, menekan tingkat kemiskinan dengan membuka lapangan pekerjaan demi mengurangi tingkat pengangguran. Maka untuk memecahkan masalah ekonomi masyarakat tersebut, tidak terlepas dari peran pemuda untuk bersama-sama dengan pemerintah dalam membina desa berkelanjutan, terutama dalam bidang ekonomi, sebagai persoalan vital dalam mencapai kehidupan masyarakat yang makmur dan sejahtera. 

Maka disini saya menggunakan konsep 5W + H 
Pertama: what = apa yang pertama kita lakukan..? Hal pertama yang kita lakukan adalah mencari peluang usaha. Tentunya dalam hal ini kita harus tahu potensi alam yang kita miliki saat ini apa..? dan kemampuan SDM masyarakat dalam mengelola sebuah peluang usaha seperti apa....? Sebagai usulan, mengingat letak geografis desa nanga bere yang berada tepat dibibir pantai laut sawu, maka peluang usaha yg cukup strategis adalah membuka tambak ikan. Terkait lokasi itu tergantung kesepakatan bersama berdasarkan hasil survei daerah teraman. 

Kedua: who = siapa yang melakukannya..? Fungsi pemerintah dan peran pemudalah yang membangun usaha ini, mulai dari tahap perencanaan,analisis, pengelolaan, pengawasan, hingga pengembangan usaha. Sehingga usaha yang dibangun berada diatas perencanaan yang matang dan manajemen yang baik. 

Ketiga: when = kapan kita memulai..? Mengingat kondisi ekonomi yang semakin memburuk saat ini, terlebih dimasa pandemi, tentu kita tidak bisa berlama lama dalam memulainya. Maka kita mulai dari sekarang.

Keempat: where = dimana usaha ini kita bangun ? Sesuai dengan gagasan awal yaitu membangun "ekonomi kreatif masyarakat" maka yang menjadi sasaran utama usaha ini dibangun adalah lapangan kerja untuk masyarakat desa. Sehingga usaha ini dibangun dalam wilayah desa nanga bere agar mudah melakukan pengawasan oleh desa dan mudah terjangkau oleh para pekerja desa. 

Kelima: why = mengapa kita memilih usaha ini.? Masih ada jenis usaha yang lain untuk dibangun didesa ini, hanya saja saya melihat usaha tambak ikan ini peluangnya cukup besar dan membangun usaha ini cukuplah simpel karena kondisi desa tepat berada di tepi pantai laut sawu. Dengan harapan kestabilan ekonomi secara kontinyu berjalan dengan baik. Sehingga ekonomi tidak tergantung pada usaha yang bersifat musiman tapi bersifat flagsibliti yang kontinyu. 

Keenam: how = bagaimana menjalankan usahanya..? Disinilah peran utama pemerintah untuk mengatur perencanaan, mulai dari anggaran dana yang disiapkan, waktu pengadaan tambak, tenaga kerja yang dibutuhkan, jenis ikan yang dibudidayakan, hingga proses mendapatkan benih serta pakan yang digunakan. 

Selain itu Pemerintah akan membentuk tim pengelola, pengawas, pemasaran, manajemen, dan pengembangan. Kemudian masyarakat sebagai pelaku eksekusi disetiap zob yang ada sesuai dengan keahlian dan kemampuan SDM masing masing. Sedangkan pemerintah sebagai pengawas lapangan. 

Jenis usaha lain yang tidak kalah pentingnya juga adalah pengolahan bahan makanan berupa cemilan dari pisang dan umbi, usaha ini sangat didukung oleh banyaknya para petani pisang khusunya di kampung kewitu. Sehingga usaha ini tidak mengalami kesulitan bahan baku, justru dengan hadirnya usaha pengolahan makanan berupa cemilan ini akan memotivasi masyarakat untuk membuka lahan pisang yang seluas-luasnya. Sehingga pisang pisang yang dihasilkan tidak lagi dibawa atau dijual keluar. 

Lalu dari mana dana pendirian usaha yang diusulkan...? Dari informasi yang kami dapatkan bahwa desa nanga bere tiap tahunnya mendapat dana BUMDES senilai Rp 84jt. Dan anggaran BUMDES ini ada sejak tahun 2020 kemarin. Dan dana BUMDES ini akan ada setiap tahunnya. Maka dari sinilah sumber dana usaha tersebut, sehingga usaha sepenuhnya didanai oleh dana BUMDES milik desa sedangkan masyarakat adalah mitra usaha, dimana tugasnya adalah sebagai pengelola sementara peran pemerintah sebagai pengawas jalannya usaha sedangkan desa adalah pemilik modal tunggal.

Perjanjian keuntungan usaha yang dipakai adalah NISBAH (bagi hasil) 70% untuk pemilik modal dalam hal ini adalah milik desa yang nantinya akan masuk kedalam kas desa, dan 30% untuk upah pekerja atau pengelola dalam hal ini adalah masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STOP NORMALISASI HAL NYElENEH

TANTANGAN DIMASA MUDA